
Bandarlampung, Lampungnews.com – Meski tengah menjalani ibadah puasa di bulan Ramadan, namun tak menyurutkan semangat dari para pegiat literasi untuk membakar semangat dan menumbuhkan minat baca pada generasi milenial. Kali ini, para penggiat bergerak ke wilayah Pusat Konservasi Gajah Way Kambas, Kecamatan Labuhan Ratu, Lampung Timur.
Peristiwa penting turunnya kitab suci Alquran menjadi momen tepat bagi bagi para pegiat literasi untuk mengajak 250 anak usia sekolah dasar untuk membaca Alquran hingga selesai (khatam).
“Gerakan khataman Alquran ini harus menjadi contoh yang baik bagi generasi Lampung, khususnya di Lampung Timur dalam mengembangkan diri. Saya turut bangga ada teman-teman yang turun langsung menyentuh anak-anak untuk membaca,” kata Bupati Lampung Timur, Chusnunia Chalim yang hadir dalam acara tersebut.
Dalam kesempatan kegiatan Safari Literasi ini, Bupati Lampung Timur itu juga menyerahkan bantuan pemasangan listrik senilai Rp2,2 juta untuk kediaman Mbah Saijah (86) yang menjadi tempat Rumah Baca Akar Pelangi yang dikelola oleh Rudi Hartono. “Dengan terpasangnya listrik mandiri ini, mudah-mudahan anak-anak semakin aktif untuk belajar di Rumah Baca Akar Pelangi,” jelas Chusnunia.
Safari Literasi ini diinisiasi oleh para pegiat literasi Rumah Baca Akar, Rumah Baca Akar Pelangi, Armada Pustaka Lampung, Motor Pustaka Lampung, Perahu Pustaka Lampung, Ikatan Jurnalis Televisi (IJTI) Lampung Ikam Jabung Sai (IJS), Blackhouse Library dan dukungan dari PT Sinarmas dan PT Standardpen Industries.
“Kegiatan kecil ini tentu tidak bisa dilihat hasilnya sekarang, tapi saya percaya anak -anak Lampung kedepan bisa lebih bermartabat,” tandas Ages Axgeis, jurnalis Metro TV yang aktif mendatangi anak-anak untuk bangkit belajar.
Hal senada juga disampaikan Sugeng Hariyono, pendiri Motor Pustaka Lampung dan Rudi Hartono, aktivis Rumah Baca Akar Pelangi.
“Dengan membaca, kami meyakini anak-anak bisa memiliki sikap dan harapan yang lebih baik kedepan,” kata Sugeng.
Selain khataman Alquran, para pegiat literasi juga menggelar buku-buku bacaan di seputaran Masjid Labuhan Ratu. Mereka yang terlibat membuka lapak baca adalah Cendol Pustaka, GL Pustaka, Obrok Pustaka.
“Diharapkan kegiatan ini menjadi ajang silaturrahmi juga bagi para pegiat, masyarakat dan pemerintah,” imbuh Sugeng.
Sementara, Nury Sybli, pendiri Blackhouse Library yang telah melahirkan Rumah Baca Akar di berbagai pelosok adalah satu-satunya pegiat yang tidak berdomisili di Lampung. Namun perhatiannya pada anak-anak di Lampung tidak kalah dengan rekan-rekannya.
“Sesungguhnya pewaris negeri ini adalah anak-anak. Saya tidak melihat anak siapa, dimana dia berada, apa agamanya, apa sukunya. Saya hanya ingin anak-anak tumbuh menjadi pewaris negeri yang mandiri, yang percaya diri dan mengerti sebagai anak Indonesia,” kata Nury. (El Shinta)