
Bandarlampung, Lampungnews.com – Dinas Kesehatan Provinsi Lampung memastikan tidak adanya warga yang terkena virus difteri. Namun, sejak Mei hingga Desember 2017 terdata adanya 12 kasus suspect difteri.
“Di Lampung hingga saat ini belum ada penyakit difteri, yang ada kasus suspect difteri. Kalau kita lihat tahun 2017, suspect ada 12 kasus. Pada bulan Mei ada 1 kasus, paling ramai di Desember ada 9 kasus suspect difteri yang berhasil terpantau oleh Dinas Kesehatan Provinsi Lampung,” kata Humas Dinas Kesehatan Provinsi Lampung, Asih Hendrastuti, Jumat (29/12).
Asih mengatakan, untuk pasien yang menyandang status suspect difteri tersebar di beberapa kabupaten/kota di Lampung dengan umur yang berbeda.
“Ada yang dari Lampung Utara, Lampung Tengah, Tanggamus, Pringsewu, Bandarlampung dan Metro. Untuk usianya dari 3-78 tahun, jadi di Lampung yang terkena suspect ini tidak hanya anak-anak,” jelasnya.
Saat ini, sambung dia, dari sembilan kasus suspect yang tengah ditangani telah dikirim sampel ke Kementerian Kesehatan RI di Jakarta untuk dilakukan uji laboratorium.
“Untuk menegakkan diagnosa pasti kita lakukan usap tenggorok, pemeriksaannya dilakukan di Jakarta, biasanya hasilnya baru kita dapatkan paling cepat satu minggu. Tapi bukan berarti selama menunggu hasil dari Jakarta pasien tidak kita lakukan apa-apa, kita akan rawat sesuai dengan diagnosa yang ada. Misalkan dia demam, kita tangani demamnya. Jawaban dari Jakarta itu hanya penguatan diagnosa,” paparnya.
Asih mengungkapkan, untuk saat ini hanya ada satu pasien yang tengah menjalani perawatan intensif di ruang isolasi RSUDAM.
“Semua pasien yang pulang sudah layak pulang, kecuali satu pasien minta pulang cepat kami maklumi, tapi kami kabupaten asal untuk tetap lakukan observasi lebih lanjut karena hasil laboratoriumnya belum keluar. Untuk pasien F dari Lampung Utara masih di ruang isolasi karena kecenderungan dan kehati-hatian, jadi kita isolasi,” terangnya.
Dirinya mengimbau kepada masyarakat dan petugas kesehatan agar bisa mengenali gejala difteri lebih awal, agar tidak terjadi overdiagnosis.
“Jadi pasien yang mengidap difteri itu ada ciri-cirinya, yakni demam tinggi suhu 38 derajat celcius, khas difteri ada bercak putih keabu-abuan di sekitar tenggorok, kalau selaput ini mau dilepas itu lengket dan mengeluarkan darah. Lalu leher tampak bengkak karena sistem kekebalan tubuh sedang berusaha melawan virusnya, jadi kelenjar getah bening produksi banyak. Jadi harus memiliki tiga ciri-ciri ini baru bisa dirujuk dengan diagnosa difteri,” tandasnya. (El Shinta)