
Bandarlampung, Lampungnews.com – Bakal calon gubernur (bacagub) Lampung Herman HN membantah tegas kabar bahwa dirinya akan berpasangan dengan Ridho Ficardo pada perhelatan pemilihan gubernur 2018 mendatang.
“Itu berita hoax, berita bong. Jangan buat heboh suasana, termasuk koran nggak benar yang memberitakan itu. Saya ingin beritanya objektif, coba tanya calonnya siapa,” kata Herman HN ditemui di rumah dinas walikota, Selasa (10/10).
Dirinya juga menegaskan tidak akan berpasangan dengan Ridho sebagai wakilnya. Hal itu dipastikan tidak akan terjadi.
“Mana mungkin, mana mungkin bakal akan terjadi, karena jadi wakil gubernur. Kalau saya jadi wakil mending saya jadi walikota saja, ngapain maju pemilihan gubernur. Makanya saya nggak daftar kemana-mana, maju saja dari PDIP, tapi saya maju nomor satu bukan nomor dua, ngapain saya nomor dua,” terangnya.
Herman menuturkan, jika dirinya memang akan maju sebagai wakil gubernur, sudah sejak lama ‘lamaran’ dari sejumlah bakal calon diterimanya.
“Saya nyalon nomor satu. Kalau nomor dua banyak yang lamar saya dari kemarin. Saya mau nyalon jadi gubernur karena saya ingin mensejahterakan masyarakat di Lampung, pendidikan dan kesehatan gratis, jalan mulus, ekonomi bagus, panen tidak terlambat,” jelasnya.
Disinggung apakah dirinya sudah bergerilya ke berbagai daerah untuk memperkenalkan diri sebagai bakal calon gubernur? Walikota Bandarlampung ini enggan membeberkan lebih jauh mengenai strateginya. Termasuk membentuk tim pemenangan.
“Ya lihat saja, di jalan-jalan banner saya sudah banyak, mobil saya sudah PDIP. Pokoknya saya nyalon nomor satu dan dari PDIP, titik. Kalau yang itu (tim pemenangan) nantilah, masak saya mau ngumumin dengan kamuorang (wartawan). Kalau diumumin sekarang bisa kalah saya nanti,” ungkap Herman.
Untuk rekomendasi dari PDIP, Herman mengaku belum mengetahui tanggal pasti. Sebab keputusan masih menunggu pusat. Termasuk pasangan wakil untuk dirinya.
“Nah nggak tau saya. yang menandatanganinya kan Ibu Megawati, saya nggak bisa ngatur-ngatur beliau. Nggak tahu kalau wakilnya, sepertinya rekomendasi untuk gubernurnya yang keluar dulu, baru nanti wakilnya. Tapi nggak tahu juga kalau seperti pilgub 2014 lalu, saya langsung dipaketkan dengan Muklis Basri, ya bisa jadi seperti itu lagi,” jelasnya.
Herman mengaku menginginkan wakil yang bisa satu jalan dirinya, bukan yang menghalangi ide pembangunanya.
“Kriterianya nggak kayak Yusuf Kohar lah. Nanti kita lihat dulu mana wakil yang benar-benar bagus, kalau nggak bisa buat kerjasama buat apa. Nanti nantang-nantang walikota itu nggak benar namanya,” pungkasnya. (El Shinta)