
Jakarta, Lampungnews.com — Lembaga Media Survei Nasional (Median) mendapati elektabilitas Presiden Joko Widodo untuk terpilih kembali di pemilu nanti hanya 35,7 persen. Persoalan ekonomi dan politik identitas agama menjadi penyebab elektabilitas Jokowi tak tembus 40 persen.
“Akibat dua problem ini jelang pilpres, elektabilitas Jokowi tak beranjak di angka 35,7 persen,” kata Direktur Riset Median Sudarto di bilangan Cikini, Jakarta, Senin (23/7).
Elektabilitas itu berdasarkan pertanyaan: jika pemilihan presiden dilakukan saat ini, siapakah yang Anda pilih menjadi Presiden RI?
Meski hanya meraih 35,7 persen, elektabilitas Jokowi tetap yang teratas. Di bawahnya ada Prabowo Subianto yang mengantongi 22,6 persen, Gatot Nurmantyo dengan 6,8 persen dan Anies Baswedan meraih 5,2 persen suara.
Sudarto menyebut elektabilitas Jokowi di bawah 50 persen lantaran persoalan ekonomi dan kesejahteraan yang cukup serius.
Hal-hal yang disoroti terkait isu ekonomi dan kesejahteraan adalah kemiskinan, lapangan kerja, sembako mahal, BBM mahal, tarif listrik mahal, dan utang negara. Jika dikelompokkan dalam satu kluster, jumlah responden yang tak puas dalam isu ekonomi dan kesejahteraan ini mencapai 42 persen.
Lalu perihal menguatnya politik identitas belakangan ini, Sudarto melihat Jokowi menderita akibatnya.
Dalam survei Median mayoritas responden mengaku lebih lekat dengan identitas keagamaan dibanding identitas lain seperti identitas suku, nasional, dan identitas regional.
Sidarto memperkirakan identitas politik agama ini bakal terus menguat sampai pemilu tahun depan. Pasalnya dalam survei mereka, responden yang ingin politik dan agama tak dipisahkan sebesar 43 persen, sedangkan mereka yang ingin agama dan politik dipisah hanya 33,9 persen saja.
“Maka dari itu pertimbangan utama cawapres dari Jokowi harus yang menguasai dua isu tadi sehingga persepsi negatif Pak Jokowi bisa berkurang,” tutur Sudarto.
Survei Median ini memakai jawaban dari 1.200 responden yang tersebar di semua provinsi. Margin of error dari sampel mereka sekitar 2,9 persen. Metodologi yang digunakan adalah multistage random sampling.
Median melaksanakan survei ini pada 6-15 Juli 2018 dengan tujuan memetakan kompetisi Pilpres 2019. (*)
Sumber : Cnnindonesia