
Bandarlampung, Lampungnews.com – Kampung Ujung Bom, Gudang Lelang, Telukbetung Selatan bukan hanya dikenal sebagai salah satu Tempat Pelelangan Ikan paling sibuk di Bandarlampung. Namun, kampung nelayan ini juga merupakan sentral pembuatan ikan asin.

Ikan-ikan hasil tangkapan melaut berminggu-minggu tak melulu dihabiskan untuk dijual ke pasar. Sebagian dimanfaatkan untuk dijadikan olahan makanan yang tentunya sudah tak asing lagi bagi lidah orang Indonesia. Dari tangan dingin para perempuan di Kampung Ujung Bom, berbagai jenis ikan ‘disulap’ menjadi ikan asin dan daging giling.

Biasanya, para pengerajin merupakan para istri nelayan yang tidak bekerja. Setiap pagi, mereka berkumpul di salah satu teras rumah untuk mengkuliti ikan tangkapan untuk diambil daging dan dibuang durinya. Dalam sehari biasanya 10 kilogram daging ikan diolah dan dijual kepada para pedagang yang khusus menjual daging ikan giling.

Bagi sebagian orang, duri atau tulang ikan yang sudah difillet adalah sampah. Namun, di tangan mereka duri-duri tersebut menjadi pundi-pundi rupiah. Duri tersebut dijemur selama berhari-hari dibawah terik matahari, lalu dijual sebagai pakan ternak lele.

Sedangkan ikan lainnya yang tidak dijual dan difillet, direndam air garam selama beberapa hari. Namun sayangnya, harga garam melonjak hingga dua kali lipat. Para pengerajin yang biasanya membeli garam Rp 60 ribu per karung, kini harus mengeluarkan kocek hingga Rp 130 ribu per karung. Apa daya, para pengerajin ikan asin tak dapat berkutik. Harga jual ikan asin tak dapat dinaikan, tapi pengerajin terjepit dengan tingginya harga produksi. (El Shinta)