Bandarlampung, Lampungnews.com – Unjuk rasa atau demonstrasi kerap kali dilakukan sebagai bentuk kritik atau menyuarakan sesuatu. Biasanya objek yang dikritik lebih banyak ke instansi plat merah atau pemerintahan. Tak jarang juga, aksi unjuk rasa dibumbui dengan sedikit cerita drama atau teatrikal.

Teatrikal pada aksi unjuk rasa lebih banyak bernuansa seni yang mampu menyampaikan pesan kritik yang ingin disuarakan dibalik toa yang diteriakkan koordinator.

Seperti aksi teatrikal pada dua tahun kepemimpinan Presiden RI Joko Widodo dan Wakil Presiden RI Jusuf Kalla. Demonstran yang berlakon sebagai orang nomor satu di Indonesia ini harus rela ditarik-tarik para pelakon lain yang bertindak sebagai orang asing.

Teatrikal ini sebagai bentuk kritik lantaran Jokowi dianggap banyak ‘manut’ terhadap orang asing yang nyaris menjadi raja di Indonesia.

Aksi teatrikal yang menarik lainnya seperti solidaritas terhadap petani Kedeng yang menolak pembangunan pabrik semen di Gunung Kedeng, Jawa Barat.

Sebanyak 50 petani Kendeng rela memasung kakinya dengan menggunakan semen di Istana Negara selama berhari-hari sebagai bentuk protes. Hingga akhirnya aksi ini pun turut ditiru pendemonstran sebagai bentuk solidaritas. (El Shinta)